Minggu, 22 Januari 2012 - 23:21:33 WIB
Rezeki
Diposting oleh : M. Edy Waluyo, M.S.I.
Kategori: Kajian & Daurah - Dibaca: 19 kali

Rezeki? Tentu semua orang berbeda pandangan tentangnya. Ada yang meyakini bahwa rezeki itu adalah kebaikan semata, ada lagi yang nyata-nyata mengatakan bahwa rezeki itu = uang. Jadi, kalau tidak ada uang tidak ada pula rezeki. Rezeki dalam kitab ar-Rizqu karya Prof. Dr. M. Mutawali asy-Sya'rawi adalah apa yang dapat dimanfaatkan manusia, apakah halal atau haram, baik atau buruk. Itu berarti semua yang tidak dapat kita manfaatkan - meskipun secara lahir merupakan milik kita - pada hakekatnya bukanlah rezeki kita, akan tetapi merupakan rezeki orang lain. Apa yang kita dapatkan boleh jadi merupakan rezeki kita, isteri, anak-anak bahkan rezeki orang lain. 
 
Sementara orang mengira bahwa rezeki itu adalah yang halal saja, padahal yang benar adalah rezeki itu ada yang halal dan ada pula yang haram, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 57 yang artinya:
 
"Makanlah makanan yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu."
 
 
Dengan dalih meraih rezeki inilah manusia banyak terjebak pada jalan-jalan yang tak terpuji, bahkan menghalalkan segala cara untuk memenuhi pundi-pundi kekayaan yang diyakini sebagai satu-satunya bentuk rezeki yang dapat mempertahankan status "kemuliaan" di hadapan orang. Tak peduli jika cara itu kemudian harus memutuskan silaturahmi, menyakiti atau justru menginjak-injak kehormatan orang lain, yang ada dalam kamus hidupnya adalah bagaimana supaya hidupnya bertabur kemewahan.
 
Tetapi dasar rezeki adalah sesuatu yang penuh misteri, semakin dikejar justru menjauh. Banyak orang terseok-seok mencari rezeki bahkan merelakan harga dirinya tergadaikan. Fikirannya penuh dengan strategi-strategi jitu untuk meraup rezeki yang dipelajari dari konseptor-konseptor kelas wahid, sementara rumahnya penuh dengan pusaka-pusaka yang diyakini memiliki kekuatan untuk menarik rezeki dari "Bank Ghaib". Belum lagi ritual-ritual yang dilakoni, mencari berkah ke gua-gua, gunung-gunung, makam keramat, mandi di tujuh mata air, membaca aneka mantera, tetapi yang jelas-jelas dirasakannya adalah masuk angin dan masuk angin lagi. Kalaupun ada yang "berhasil" karena menjalani ritual seperti itu, bukan semata-mata karena menjalaninya tetapi syetan dengan bala tentaranya sedang "ngerjain" biar orang-orang yang mengikutinya semakin terperosok dalam kesesatan.
 
Di sisi lain, seorang muslim yang taat sebut saja S, pernah merasakan kegelisahan ketika suatu saat rezekinya menjadi betul-betul seret. Saran dari seorang ustadz yang menganjurkannya untuk rajin shalat tahajud dan dhuha telah dilakukannya sampai beberapa bulan ternyata sama sekali tidak membuahkan hasil, yang ada justru rezekinya semakin seret. Di saat yang sama, S melihat seorang teman seprofesi yang jauh dari ibadah (walaupun KTPnya dia beragama Islam) dengan beberapa susuk yang ditanamkan di beberapa anggota tubuhnya hasilnya sangat fantastis. Baru saja keluar dari pabrik membawa barang dagangannya selalu ludes terjual. Pelanggan yang awalnya tak punya niat membeli produk yang dibawanya, tiba-tiba tergerak hatinya untuk membeli. Alhasil, rupiahnya menguat dan mempertebal dompet. S bertanya-tanya dalam hati, "Tuhan, kalau Engkau benar-benar ada dan apa yang aku jalani ini benar mengapa Engkau tetap menjadikan aku seperti ini?" Pertanyaan itu memuncak hingga suatu saat ia sempat berfikir untuk sama sekali meninggalkan sholat.
 
Ada lagi B, seorang lelaki yang memiliki 3 saudara kandung. Ketika ayah mereka meninggal dunia, belum lagi tanah kuburan sang ayah kering, B buru-buru mengajak saudara-saudara untuk menghitung bagian masing-masing. Tetapi dibalik itu, dalam hati B dipenuhi dengan keinginan untuk memiliki seluruh aset peninggalan sang ayah. Ini adalah untuk anak cucuku, begitu yang tersirat di dalam benaknya. Datanglah B ke dukun yang biasa mengirimkan sihir-sihir yang mematikan kepada 3 saudara kandungnya. Alhasil ketiga saudaranya ada yang tiba-tiba terkena penyakit aneh, ada yang terganggu ingatannya dan ada pula yang mati mendadak. Puas hati B ketika mendapat harta yang berlimpah. Ini adalah "rezeki" yang menurutnya dapat mengekalkannya dalam kemuliaan hidup, walaupun harus mengorbankan iman dan saudara-saudara yang seharusnya dikasihi.
 
Suatu saat  seorang pengembara  di tengah jalan  dirampas oleh begal, sementara itu ia ditinggalkan dalam kondisi kaki dan tangan terikat. Dalam fikirannya tamatlah riwayatku! Tak berapa lama waktu berselang, tiba-tiba ada seekor burung yang membawa sepotong roti dengan paruhnya mendekat dan menyuapkan roti itu ke mulutnya. Kejadian itu berlangsung hingga beberapa hari. Sementara itu di lain tempat, seseorang yang merasa aneh dengan hilangnya beberapa potong roti beberapa hari ini. Satu saat sengaja ia menyelidiki siapa sebenarnya yang telah mencuri rotinya. Betapa kagetnya pemilik roti itu mengetahui bahwa yang melakukannya adalah seekor burung. Demi menghilangkan rasa penasarannya ia mengikuti ke mana sang burung terbang. Tak lama pemilik roti memergoki sang burung sedang menyuapkan roti ke mulut sang pengembara. Subhanallah, ternyata begini cara Allah memberi rezeki.



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)